2. Figur Kultural dan Pesantren
Arus bawah NU yang sangat lekat dengan tradisi pesantren diprediksi akan mendorong tokoh-tokoh yang memiliki akar kuat di kalangan kiai kampung dan santri. Beberapa nama yang kerap disebut dalam diskusi informal antara lain:
- KH Marzuki Mustamar: Mantan Ketua PWNU Jawa Timur ini memiliki basis massa yang sangat kuat dan militan di Jawa Timur, provinsi yang menjadi barometer kekuatan NU.
- KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha): Meski cenderung menjauhi politik struktural, keilmuan dan popularitas Gus Baha menjadikannya sosok ideal di mata banyak Nahdliyin yang merindukan kepemimpinan berbasis keulamaan murni.
- KH Hasan Mutawakkil Alallah: Pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong ini dinilai sebagai sosok kiai sepuh yang mampu merangkul berbagai faksi di internal NU.
3. Tokoh Birokrat dan Profesional NU
Selain dari kalangan pesantren, muncul juga wacana untuk mendorong figur-figur dengan latar belakang birokrat atau profesional yang memiliki rekam jejak manajerial yang mumpuni. Nama seperti Khofifah Indar Parawansa (Ketua Umum PP Muslimat NU) kerap muncul sebagai representasi kekuatan perempuan NU, meski secara tradisi posisi Ketum PBNU selalu diisi oleh laki-laki. Selain itu, tokoh seperti Ali Masykur Musa (Ketum ISNU) juga dinilai memiliki kapasitas organisatoris yang matang.
Tantangan PBNU ke Depan: Kembali ke Khittah atau Ekspansi Peran?
Pengamat politik Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, menilai bahwa Muktamar NU 2026 tidak hanya sekadar ajang pemilihan ketua umum, melainkan pertarungan gagasan mengenai arah masa depan NU.
“Tantangan terbesar Ketum PBNU ke depan adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara Khittah 1926βyaitu menjaga jarak dari politik praktisβdengan kebutuhan untuk melindungi kepentingan strategis warga NU di tengah kebijakan negara,” ujarnya.

Leave a Reply