Para buzzer ini sering kali menggunakan bot atau akun palsu untuk memompa volume cuitan agar sebuah tagar pesanan naik ke permukaan. Selain itu, tagar juga kerap digunakan sebagai kendaraan untuk menyebarkan hoaks, kampanye hitam, dan misinformasi. Hal ini menuntut platform media sosial untuk terus memperbarui sistem moderasi mereka, dan di sisi lain, menuntut masyarakat untuk lebih kritis.
Kesimpulan: Menghadapi Era Tagar dengan Literasi Digital
Hashtag dan tagar viral di X maupun TikTok adalah cerminan dari dinamika sosial masyarakat Indonesia. Keduanya memiliki peran masing-masing; X sebagai ruang dialektika dan kontrol sosial, sementara TikTok sebagai panggung kreativitas dan penggerak ekonomi digital. Di tengah arus informasi yang begitu deras, literasi digital bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan. Warganet harus cerdas dalam memilah, mana tagar yang murni merupakan aspirasi publik, dan mana yang sekadar ilusi algoritma ciptaan pihak-pihak berkepentingan.

Leave a Reply