Menjaga Jarak dari Politik Praktis

Isu yang tak kalah krusial dalam LPJ mendatang adalah komitmen PBNU terhadap Khittah 1926, khususnya terkait netralitas dalam politik praktis. Menghadapi Pemilu Serentak 2024, Gus Yahya berulang kali menegaskan bahwa PBNU secara institusional tidak terlibat dalam dukung-mendukung kandidat tertentu. Ketegasan PBNU dalam menonaktifkan pengurus yang masuk dalam tim sukses atau mencalonkan diri sebagai kepala daerah/legislatif merupakan preseden penting.

Meskipun dinamika politik selalu memunculkan gesekan, keteguhan PBNU di bawah Gus Yahya untuk menjaga muruah organisasi dari pusaran politik partisan akan menjadi catatan emas dalam LPJ tersebut. Hal ini membuktikan bahwa NU berfokus pada politik kebangsaan (high politics) alih-alih politik kekuasaan yang pragmatis.

- Advertisement -
SLOT PARALLAX

Pasang Iklan Banner Anda di Sini

Efek parallax diam otomatis ala Igniel. Upload script/gambar di Customizer.

Kesimpulan: Menatap Masa Depan Nahdlatul Ulama

Secara keseluruhan, LPJ Gus Yahya Muktamar PBNU diproyeksikan akan mencerminkan transisi besar Nahdlatul Ulama di abad keduanya. Perpaduan antara visi global yang visioner dan pembenahan tata kelola internal yang teknokratis menjadi ciri khas kepemimpinan periode ini. Tentu saja, dialektika dan kritik dari para kiai, ulama, serta pengurus wilayah dan cabang di arena Muktamar nanti akan menjadi penyempurna bagi langkah NU ke depan. Publik menanti bagaimana pertanggungjawaban ini bukan sekadar deretan angka dan klaim keberhasilan, melainkan pijakan kokoh untuk terus merawat jagat dan membangun peradaban manusia.

📑 HALAMAN ARTIKEL
Halaman 3 dari 3