- Karakteristik Lahan Gambut: Kebakaran di lahan gambut sangat sulit dipadamkan karena api merambat di bawah permukaan tanah. Pemadaman dari udara seringkali tidak cukup, sehingga membutuhkan pembasahan (rewetting) secara masif dari darat.
- Krisis Sumber Air: Kemarau panjang menyebabkan kanal, embung, dan sungai di sekitar lokasi kebakaran mengering. Hal ini menyulitkan tim darat untuk mendapatkan pasokan air saat melakukan operasi pemadaman.
- Aksesibilitas Lokasi: Banyak titik api yang berada di kawasan hutan terpencil dengan medan yang sulit dijangkau oleh kendaraan pemadam kebakaran konvensional, sehingga memaksa petugas berjalan kaki memanggul mesin pompa portabel.
- Faktor Manusia: Praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar (slash and burn) yang masih dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab menjadi pemicu utama yang terus berulang setiap tahunnya.
Sinergi Pusat dan Daerah dalam Mitigasi Berkelanjutan
Merespons eskalasi karhutla, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama BNPB terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah. Upaya mitigasi kini tidak lagi hanya bertumpu pada pemadaman (responsif), tetapi juga pada pencegahan (preventif). Patroli terpadu yang melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) terus digencarkan di desa-desa rawan karhutla.
Selain itu, penegakan hukum yang tegas terhadap korporasi maupun individu yang terbukti melakukan pembakaran lahan dengan sengaja menjadi instrumen penting untuk memberikan efek jera. Penyegelan lahan konsesi yang terbakar dan pengenaan sanksi administratif hingga pidana terus dikawal oleh aparat penegak hukum.
Dampak Multidimensi yang Harus Diwaspadai
Jika isu penanganan karhutla dan status bencana daerah ini tidak dikelola dengan manajemen krisis yang baik, dampaknya akan sangat luas. Asap pekat yang ditimbulkan tidak hanya memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) bagi jutaan warga, tetapi juga melumpuhkan roda perekonomian lokal. Jarak pandang yang terbatas kerap mengganggu jadwal penerbangan dan transportasi darat maupun laut.
Lebih jauh, karhutla yang tidak terkendali berpotensi memicu protes dari negara tetangga akibat kabut asap lintas batas (transboundary haze), yang dapat mencoreng citra diplomasi lingkungan Indonesia di mata internasional. Oleh karena itu, kesigapan kepala daerah dalam membaca situasi, menetapkan status bencana, dan mengeksekusi strategi penanganan di lapangan menjadi kunci utama dalam memutus rantai bencana tahunan ini.

Leave a Reply Cancel reply