JAKARTA — Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang sempat melanda sektor teknologi tahun lalu, lanskap ketenagakerjaan Indonesia kini mulai menunjukkan titik terang. Memasuki kuartal kedua tahun 2024, tren job vacancy (lowongan kerja) di Tanah Air mengalami pergeseran paradigma yang signifikan. Permintaan tenaga kerja kini tidak lagi didominasi oleh sektor konvensional, melainkan beralih secara masif ke sektor ekonomi digital, kecerdasan buatan (AI), dan industri berwawasan lingkungan atau green jobs.

Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan sejumlah portal pencarian kerja terkemuka, terdapat peningkatan job opening sebesar 35 persen di sektor teknologi informasi dan energi terbarukan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini sejalan dengan ambisi pemerintah Indonesia untuk mempercepat transformasi digital dan merealisasikan target emisi nol bersih (net zero emission) pada tahun 2060 mendatang.

- Advertisement -
SLOT PARALLAX

Pasang Iklan Banner Anda di Sini

Efek parallax diam otomatis ala Igniel. Upload script/gambar di Customizer.

Pergeseran Tren Job Opening di Era Transisi

Pengamat Ketenagakerjaan dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Payaman Simanjuntak, menilai bahwa lonjakan job vacancy saat ini merupakan respons langsung terhadap restrukturisasi ekonomi nasional. “Kita sedang berada dalam fase transisi. Perusahaan-perusahaan tidak lagi sekadar mencari pekerja administratif, tetapi memburu talenta yang memiliki literasi digital tinggi dan pemahaman terhadap keberlanjutan (sustainability),” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (24/5).

Lebih lanjut, kebijakan hilirisasi industri yang didorong oleh pemerintah, khususnya dalam ekosistem kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) dan baterai, telah menciptakan efek ganda (multiplier effect) terhadap pembukaan lapangan kerja baru di kawasan industri luar Pulau Jawa, seperti Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.

📑 HALAMAN ARTIKEL
Halaman 1 dari 3