Berbekal tabungan pribadi sebesar Rp 15 juta, Aditya mulai melakukan riset mandiri mengenai teknik pengeringan daun kelor yang tepat agar nutrisinya tidak hilang. Ia membangun alat pengering sederhana (solar dryer dome) dan mulai mengedukasi segelintir petani di desanya untuk menanam dan memanen kelor dengan standar operasional prosedur (SOP) yang benar.
Memberdayakan Petani Lokal di Tengah Pandemi
Titik balik usaha Aditya terjadi justru ketika pandemi COVID-19 melanda pada tahun 2020. Permintaan global terhadap suplemen alami dan makanan penambah imunitas melonjak tajam. Pesanan dari luar kota hingga luar negeri mulai berdatangan melalui platform digital dan pameran virtual yang diikutinya.
Dampak Sosial yang Nyata
Seiring dengan meningkatnya permintaan, Aditya menyadari bahwa ia tidak bisa berjalan sendiri. Ia kemudian membentuk kelompok tani mitra. Hingga pertengahan tahun 2023, tercatat sudah ada lebih dari 150 petani lokal di berbagai kecamatan di Kabupaten Pati yang menjadi mitra tetapnya.
“Kami menerapkan sistem fair trade atau perdagangan berkeadilan. Petani kami berikan bibit unggul, kami dampingi cara tanam organik tanpa pestisida, dan hasil panennya kami beli dengan harga di atas harga pasar. Alhamdulillah, banyak petani yang kini perekonomiannya jauh lebih stabil,” tutur pemuda kelahiran 1995 tersebut.
